Jumat, 29 Agustus 2014

Tips Menghafal Al-Quran | Oleh Vokalis IZIS Bang @af1_


Menghafal Al-Quran itu mudah dan menyenangkan, dan tentu saja membuat hidup berlimpah berkah. Bagi anda yang padat dengan segudang kesibukan harian, Bang Afwan Riyadi -vokalis grup nasyid Izzatul Islam (IZIS)- berbagi tips menghafal Al-Quran. Yuks kita simak:


Alhamdulillah .. di usia hampir kepala 4 ini, urusan menghafal Al Quran ternyata gak sesulit yg dibayangkan.

Mau saya share tips2-nya kawan? #MenghafalQuran

Buat anak2 muda yg masih fresh sih harusnya lebih cepat menghafalnya dibanding saya .. #MenghafalQuran

Oiya, rekor saya sih 1 juz hafal dalam 2 bulan .. Not bad lah (^___^) .. apalagi saya tobatnya mulai belakangan ini lagi (^__^) ..

Saya terinspirasi dari penelitian anak saya; Wafa. Dia meneliti hubungan antara kedekatan dgn Al Quran & kecerdasan. Ternyata sangat erat.

Sejak itu ane mencoba kejar2an sama Wafa banyak2an hafalan. Tiap pagi kalau antar sekolah, kita sering talaqqi sama2. #MenghafalQuran

Tips-nya #MenghafalQuran itu gak berat2 amat. Yang berat mempertahankan semangat untuk istiqamah. Beneran dah.

Intinya #MenghafalQuran itu cuma 2 : 1. Istiqamah .. 2. Banyak mengulang (talaqqi). Itu aja. Sisanya disesuaikan kemampuan & selera masing2.

Ane baru mulai #MenghafalQuran lagi tahun lalu setelah lamaaaa vakum gak menghafal .. (~__~) .. Lumayan, alhamdulillah ..

Jadi cara ane #MenghafalQuran itu begini : sebelum pergi, sisihkan waktu 5-10 menit menghafal 3 atau 4 baris. Udah cukup jangan maruk..

Nah lalu kita pergi (entah ke kantor, antar anak sekolah atau kemana aja); diulang2 terus apa yg kita hafal tadi. #MenghafalQuran

Jadi waktu dijalan yg bisa memakan waktu 30 menit bahkan kadang sampai 2 jam; gak sia-sia. Kita bisa gunakan buat mengulang2 hafalan.

Oiya, pas #MenghafalQuran, ane menggunakan Al Quran yg ada terjemahan, sehingga bisa sedikit mengerti apa yg kita hafal.

Mengerti ceritanya; apa yg ingin disampaikan Allah dalam ayat2 yg kita hafal. Itu cara #MenghafalQuran yg efektif sekali menurut ane.

Jadi waktu yg digunakan untuk nambah hafalan gak banyak; cukup 5-10 menit sehari. Lalu dijalan ulang2 terus. Disambung dgn ayat2 sebelumnya

Nah kadang kalau bosan, okelah satu hari rehat gak nambah. Namanya jiwa manusia kadang butuh rehat. Cara rehatnya, tetap dgn Al Quran juga.

Ane biasanya membaca tafsir; atau minimal terjemahan dari ayat2 yg belum kita hafal. Jadi pas nanti kita mau menghafalnya, sudah agak faham

Macam begitu 1 hari aja. Besoknya kita tambah hafalan lagi. Cukup 3 atau 4 baris sehari. Gak usah buru2. #MenghafalQuran

Insya Allah kalo konsisten, kita bisa #MenghafalQuran diluar kepala 1 lembar dalam 1 pekan. Lumayan kan?

Akan nancep lagi, kalau hafalan itu kita amalkan dalam shalat malam. Puas2in deh berlama2 shalat sambil membacakan semua yg kita hafal

Gak terasa tiba2 kaki bergetar karena kelamaan berdiri .. (^___^) .. tapi gak mau selesaikan shalat. Ketagihan. Beneran deh ane gak bohong

Jadi intinya, tips ane #MenghafalQuran itu : bikin dgn cara seringan mungkin. Jangan ngoyo jangan ngotot. Santai aja. Dinikmati prosesnya

Cukup 5-10 menit sebelum berangkat kerja, luangkan waktu nambah hafalan. Lalu ulang2 terus selama perjalanan. Kalau lupa, buka contekan.

Syukur2 bisa nancep bener, tambahin 5-10 menit sebelum pulang kerja. Hafalin 3-4 baris saja jangan banyak2. Atau 2-3 ayat pendek. Cukup.

Kadang ane malah cuma 1 ayat, 1 baris aja. Gapapa yg penting hafal & gak lupa2 lagi insya Allah. #MenghafalQuran

Menambah hafalan-nya pakai Al Quran yg ada terjemahnya, jadi kita sedikit faham dgn apa yg kita hafal. Itu membantu dlm #MenghafalQuran

Sekali-kali bangun malam; atau shalat malam sebelum tidur juga gpp. Baca deh ayat2 yg sudah kita hafal, Nikmaaaat rasanya.

Saya & adik2 binaan membuat buku laporan shalat malam. Simpel, bikin sendiri dari 1 kertas A4 dilipat 8. Jadilah buku kecil2an.

Setiap halaman adalah laporan shalat malam kita selama 1 pekan. Simpel aja kayak main catur jawa. Kalau shalat kasih O kalau enggak kasih X

Nanti keliatan, dalam 1 pekan siapa yg menang. Yang O atau X ? Itulah kita dalam sepekan.

Itu aja, Simpel kan? Memang harus dibuat simple sehingga kita senang & merasa mudah melaksanakannya. #MenghafalQuran

Kalau belum2 sudah merasa berat; gak akan bisa kita menghafal. Sudah ada mental block duluan. Padahal Al Quran itu sdh dimudahkan Allah

Gitu aja. Semoga bermanfaat ya tips2 #MenghafalQuran-nya. Waktunya baca mention kawan..

*dikutip dari twit @af1_

*http://www.pkspiyungan.org/2014/08/tips-menghafal-al-quran-oleh-vokalis.html

Fraksi PKS: RUU KKG Berpotensi Merugikan Perempuan

H. Raihan Iskandar, LC, Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKS.  (Fraksi PKS)
H. Raihan Iskandar, LC, Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKS. (Fraksi PKS)

dakwatuna.com – Jakarta.  Rancangan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) berpotensi merugikan perempuan. Bila RUU ini tetap bertahan dengan konsep gender sementara semangatnya adalah pembelaan pada kepentingan perempuan, RUU ini sendiri bila diundangkan justru berpotensi merugikan perempuan. Demikian disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKS Raihan Iskandar di gedung DPR RI, Kamis (28/8/14).

“RUU ini berpotensi merugikan perempuan dengan dimentahkannya berbagai keistimewaan yang didapat perempuan, semisal ketentuan affirmative action yang mengamanahkan 30% kuota perempuan pada pengurus parpol dan pencalonan anggota legislatif, ketentuan-ketentuan terkait peraturan ketenagakerjaan, penyediaan layanan publik khusus perempuan dan lain-lain,” kata Raihan dalam rillis yang diterima redaksi.

Raihan menilai RUU Keadilan dan Kesetaraan KKG gender membawa satu terminologi baru di tengah masyarakat. Kata gender yang tidak mengakar dari budaya Indonesia hadir dengan sebuah penyederhanaan definisi mengenai pembedaan peran laki-laki dan perempuan yang dilakukan atas rekonstruksi sosial. Maka konsep gender di dalam berbagai kajian dinyatakan netral dan tidak merujuk pada jenis kelamin tertentu.

Landasan dasar dari munculnya RUU KKG, yaitu adanya kebutuhan publik yang belum terakomodir di dalam seperangkat aturan juga dipertanyakan oleh Raihan. “Apakah hadirnya RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender ini merupakan sebuah kebutuhan publik dalam hal ini perempuan, yang belum terakomodir?Sebab bila merujuk pada poin-poin tindakan kesetaraan dan keadilan gender yang tertuang di dalamnya, dimana tindakan itu meliputi kesetaraan dan keadilan dari sisi kewarganegaraan; pendidikan; ketenagakerjaan; ekonomi; kesehatan; administrasi dan kependudukan;perkawinan;  hukum; politik dan pemerintahan; lingkungan hidup;sosial dan budaya; dankomunikasi dan informasi maka sesungguhnya Indonesia sudah memiliki berbagai peraturan yang melingkupi hal tersebut,” papar Raihan.

Raihan juga membeberkan fakta bahwa komisi VIII selama perjalanan proses harmonisasi ini sama sekali belum pernah duduk bersama dan membedah pasal demi pasal muatan RUU ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam dan menyeluruh. “Kami  Fraksi PKS menegaskan masih diperlukannya tambahan waktu untuk melakukan pendalaman atas RUU ini agar bersama-sama dapat kita rumuskan muatan-muatan yang lebih tepat dan bermanfaat,” pungkas Raihan. (sbb/dakwatuna)

"Dear Legislators..." (Catatan Humas Dewan PKS)


[Melampaui banyak hari dan hikmah yang ingin dituliskan. Namun agaknya daya harus berkejaran lebih keras lagi. Posting makalah inipun sekedar harapan agar hidup yang hanya sekali ini meninggalkan jejak berarti. Semoga manfaat.]


Ba’da salam, tahmid wash shalawat.

Yang kami hormati unsur DPP - Wilda Sumatera yang insyaallah akan segera hadir. Para ustadz ustadzah anggota dewan terpilih maupun khususnya yang telah dilantik. Para ustadz ustadzah yang berkenan hadir dalam forum ini. Sebelumnya terimakasih atas kesempatan yang diberikan untuk menyampaikan pentingnya humas bagi aleg-anggota legislatif/ dewan.

Sesi ini perlu terus diingatkan bahwa humas sangat penting bagi anggota dewan. PR – Public Relation – humas yang cakupannya bukan hanya kliping koran atau –konyolnya – tukang antar surat, tapi humas yang mencoba menjadi jembatan informasi antara anggota dewan dengan stakeholders yang kepadanya ia harus melakukan komunikasi.

***

Jika kebutuhan untuk branding agak kelewat advance untuk dipahami, mari kita mulai terlebih dulu dari yang lebih praktis, yaitu bagaimana membangun komunikasi.

Kemarin, via whatsapp kami mengadakan survei kecil-kecilan persepsi kader tentang anggota dewan PKS. Pertanyaannya hanya 3. Pertama, apa persepsi yang tertangkap jika mendengar kata “anggota dewan PKS?”. Kedua, apakah persepsi  tsb muncul karena – pilih salah satu: a. Kenyataannya memang demikian. Anda tahu betul keadaannya memang begitu, atau b. Sekedar mengira-ngira. Sejatinya tidak punya informasi yang cukup.

Untuk pertanyaan kedua ini – seperti diduga – sebagian besar menjawab b. Mereka tidak punya cukup informasi . Ketiga, apakah mereka setuju jika fraksi/anggota dewan PKS membangun komunikasi yang lebih intens dengan kader? Jika ya, apa saja bentuk perangkat komunikasi anggota dewan PKS dengan kader yang paling efektif. Saran-saran terkait poin ketiga ini luar biasa. Ada yang bahkan minta update harian via online dari para anggota dewan PKS se-Lampung.

Merujuk sepanjang 5 tahun yang lampau, kader yang kami survei menyatakan sepertinya ada keengganan, sepertinya, dari anggota dewan kita untuk berkomunikasi atau menyampaikan apa yang telah ia kerjakan kepada kader maupun publik. Sekali lagi ini mungkin asumsi yang tidak bisa gebyah uyah, tapi kita patut beranjak dari sini.

Mengapa enggan membangun komunikasi?

Mengapa masih muncul persepsi bahwa anggota dewan cenderung enggan membangun komunikasi dengan publik maupun kader? Ada tiga kemungkinan yaitu pertama, secara individual masih ada anggota dewan yang perlu di-upgrade dalam hal kemampuan berkomunikasi terutama dengan publik. Mengingat banyaknya sarana bimtek dsj, tentu upgrade kemampuan komunikasi publik – secara individual – bukan sesuatu yang terlalu rumit dilakukan anggota dewan. Secara praktis, kerja-kerja komunikasi publik juga dapat terbantu dengan menghire staf atau asisten yang punya kemampuan membuat rilis dan mengelola media sosial.

Kedua, korelasi antara keterbukaan dengan akses publik dan akuntabilitas. Alasan ini agaknya perlu digarisbawahi. Jadi, enggan membangun komunikasi bukan karena tidak mampu berkomunikasi, namun kuatir semakin besar akses publik pada ujungnya membuat tanggungjawabnya lebih besar. Kuatir ia lebih “mudah diganggu”. Namun toh, bukankah anggota dewan memang pejabat publik? Bukankah berkomunikasi dengan publik adalah sesuatu yang niscaya? Dapat terpilihpun tentu karena membangun komunikasi dengan masyarakat.

Ketiga, alasan keamanan dan strategi. Tentu saja tidak semua hal perlu disampaikan ke publik pun kader. Hal-hal yang strategis dan cenderung ‘berbahaya’ jika dipublikasi, tentu saja harus disimpan baik-baik. Benar bahwa humas bukan hanya bermakna bicara, sebar, dan sampaikan, namun juga harus pandai memilah mana yang tidak boleh dibicarakan, disebarkan, dan disampaikan.

Yang jadi soal jika semua hal terkait dewan menjadi top secret :D ... Sedangkan di sisi lain ada kader yang minta diberi info kegiatan dewan setiap pekan sebagaimana taklimat tarbawi :DD ... Ini tentu dua ekstrim yang berlebihan. Frekuensi bisa disepakati tri wulanan, atau semesteran, atau minimalisnya tahunan. Merujuk salah seorang al-akh yang menjawab survei kami, “Jangan sampai, sudah lima tahun begitu kami mau direct selling ‘menjual’ anggota dewan, kami tidak tahu apa-apa karena  memang tidak pernah menerima informasi tentang dewan yang mau diperjuangkan.”
Memilih untuk tidak mau berkomunikasi sudah menjadi bentuk komunikasi itu sendiri.

Demikianlah. Pilihan untuk tidak mau berkomunikasi justru menjadi sarana ampuh untuk mengomunikasikan bahwa memang “anggota dewan PKS sama saja dengan anggota dewan yang lain”. Publik secara sederhana membuat kesimpulan karena tidak ada diferensiasi pada anggota dewan PKS. “Kami sudah bekerja 5x lebih keras, mengapa masih dianggap sama saja dengan yang lain?” Sederhana, karena anggota dewan PKS enggan – atau tidak sempat? atau beranggapan tidak penting – untuk mengomunikasikan perbedaannya. Mohon maaf jika asumsi ini salah.

***

Titik Nadir Jembatan Informasi Dewan-Kader

Anggota dewan PKS setidaknya harus membangun komunikasi dengan 6 pihak yaitu (1) mitra – pemerintah maupun swasta, (2) tim intra fraksi (F-PKS) dan struktur partai, (3) anggota dewan lintas partai, (4) kader, (5) konstituen, dan (6) publik [dengan tidak mengurangi rasa hormat dan menafikan komunikasi dengan istri/suami/keluarga anggota dewan yang tentu juga sangat penting. Upaya menghadirkan istri/suami anggota dewan dalam pembekalan dewan kali ini pun patut diapresiasi).

Anggota dewan – terutama para petahana – tentu sangat mafhum dan lebih fasih soal bagaimana berinteraksi dengan keenam stakeholder tersebut. Terkait humas dewan, mari kita lebih merujuk pada komunikasi antara anggota dewan PKS dengan 3 unsur terakhir yaitu kader, konstituen, dan publik.

Ada pengalaman menarik ketika menemani beberapa akhwat direct selling (DS) di kampanye pemilu legislatif yang lalu. Jadi ada seorang bapak yang protes dengan menyebut dua anggota dewan kota dan seorang anggota dewan provinsi (dari PKS) yang saya sangat tahu bahwa yang beliau tuduhkan tidak benar. Paling tidak saat itu, sepanjang yang saya mampu jelaskan, saya bisa membela para anggota dewan yang disebut-sebut.

Tapi mari bayangkan ikhwan akhwat kita terjun DS lima tahun yang akan datang. Apakah mereka bisa berargumen dengan kondisi yang sama, yang didasari kepahaman karena memiliki informasi tentang para anggota dewan PKS sehingga bisa memberikan pembelaan? Dengan minimnya pemahaman akan pribadi maupun kinerja dewan, tentu sulit bagi kader untuk all out memperjuangkan anggota dewannya.

Hasil pemilu legislatif 2014 semakin membuktikan bahwa kader adalah mata tombak paling tajam pemenangan pemilu. Membangun optimisme bahwa kader pasti berhusnudzon dengan para qiyadah dan berharap mereka habis-habisan memperjuangkan anggota dewannya, namun tanpa bekalan info yang cukup, tentu amat naif.

Kader harus menjadi titik tekan bagaimana seharusnya humas dewan berperan. Ke depan, amat sangat dibutuhkan jembatan informasi berkala antara anggota dewan di semua level dengan kader. Ketika kader tahu bahwa anggota dewan sungguh-sungguh bekerja dan bersedia membuka jalur komunikasi, maka segala zhon tentang rumah baru, mobil baru, dsj insyaaLLah menjadi tidak relevan lagi. InsyaaLLah.

Dengan konstituen dan publik, anggota dewan perlu mengombinasikan seluruh sarana komunikasi baik tatap muka, media massa konvensional, maupun media sosial. Sarana komunikasi yang paripurna 360°. Sekedar catatan khusus tentang relasi anggota dewan PKS dengan pers, amat disayangkan jika di periode mendatang masih ada anggota dewan yang alergi berhubungan dengan pers/wartawan dengan alasan apapun termasuk alasan bahwa berita media massa tidak punya efek terhadap pemerolehan suara.

Belajar dari hantaman sepanjang 2013-2014 termasuk yang bertubi-tubi via media, di periode 2014-2019 ini hoping for the best but expecting the worst, kita tak berharap ada isu yang negatif keluar dari anggota dewan – pun pejabat publik PKS lainnya. Namun apabila kemudian ada yang negatif yang keluar dari pejabat publik kita, setidaknya kita sudah tahu harus melakukan apa. Jika perlu ada pelatihan mengelola isu negatif berdampingan dengan pelatihan humas lainnya.

Khatimah

Anggota dewan memang salah satu elemen saja dalam partai dakwah ini, namun ia masih merupakan etalase partai. Jika seluruh kader diposisikan sebagai humas, maka sesungguhnya anggota dewan PKS menempati posisi bersisian dengan pimpinan partai dalam hal representasi humas partai, bukan semata Ketua Bidang Humas :D. Anggota dewan sejatinya adalah humas partai itu sendiri.

Fungsionalisasi humas anggota dewan PKS – sebagaimana pemenuhan indikator kinerja dewan lainnya – secara ideal hendaknya diback-up oleh struktur. Idealnya, setiap fraksi PKS memiliki staf khusus yang menjalankan fungsi sebagai humas. Minimal fungsi-fungsi kehumasan dewan bisa dititipkan pada asisten/staf. Jangan sampai ada keraguan lagi bahwa anggota dewan PKS harus membangun komunikasi dengan publiknya.

Tentu masih bergelayut semua harapan pada anggota dewan. Namun saya setuju bukan saatnya lagi menambah beban anggota dewan dengan harapan-harapan yang hiperrealitas, harapan-harapan yang melampaui kemampuan anggota dewan untuk memenuhinya. Saatnya anggota dewan dibantu untuk dapat menggenapkan muwashofatnya dengan baik dan kelak mengakhiri amanahnya dengan husnul khotimah.


Wallahu ‘alam.

· “PR-ing Legislators; Humas Bagi Anggota Dewan, Perlukah?” ~ppt attached.
Disampaikan dalam Konsolidasi dan Pembekalan anggota DPR/DPRD kabupaten-kota dan provinsi dari PKS se-Lampung. Minggu, 24 Agustus 2014 | dengan penyuntingan agar sesuai untuk dikonsumsi dalam bentuk makalah.

(sumber: http://www.dettifebrina.com/2014/08/dear-legislators-catatan-humas-dewan-pks.html)

PKS Usul Dibentuk Badan Hukum Publik untuk Kelola Urusan Haji

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKS Ledia Hanifa mengatakan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Pengelolaan Keuangan Haji mengamanatkan agar dana haji yang dihimpun dari masyarakat bisa dikelola dengan baik, tepat sasaran dan penempatannya bisa dikelola secara transparan dan akuntabel, serta harus memberi manfaat langsung bagi jamaah haji.

"Jamaah haji harus mendapat manfaat langsung dari dana haji yang disetorkannya, dibuat rekening atas nama jamaah itu sendiri. Pengelolaan dana harus berprinsip syariah dan dikelola oleh tenaga yang profesional serta akuntabel dalam pertanggung jawabannya, sehingga menjamin kepastian setiap calon jamaah haji untuk dapat menerima nilai manfaat langsung atas dana haji yang disetorkan," tegas Ledia seperti dilansir RMOL, Jumat (29/8).

Adanya RUU Pengelolaan Keuangan Haji menjadi instrumen hukum yang kuat dalam memasuki era investasi dana haji. RUU ini sekaligus akan mengatur pemisahan antara regulator dan eksekutor. Poin penting lainnya adalah mendorong perbaikan tata kelola keuangan haji, sekaligus menegaskan posisi keuangan haji terhadap keuangan negara. Oleh karena itu, nantinya keuangan haji dilaporkan terpisah, tidak digabung dengan laporan APBN.

"Fraksi PKS mengusulkan agar dibentuk Badan Hukum Publik (BHP) yang berfungsi mengelola urusan haji. Negara-negara seperti Iran dan Maroko menghindari pemerintah sebagai pengelola haji," ujar Ledia.

BHP juga harus benar-benar memerhatikan aspek manfaat yang sebesar-besarnya untuk jamaah haji. Manfaat yang besar dapat diraih dengan pengelolaan melalui produk investasi dan jasa keuangan berbasis syariah yang produktif dan tidak berisiko tinggi. Aspek akuntabilitas publik juga lebih diperhatikan di mana penyelenggara berkewajiban memberi akses kepada publik untuk melihat laporan keuangannya. (pm)

*http://www.pkspiyungan.org/2014/08/pks-usul-dibentuk-badan-hukum-publik.html

Kamis, 28 Agustus 2014

"Keajaiban" oleh Salim A. Fillah


Iman itu terkadang menggelisahkan.

Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”

Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;

..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur. (QS Saba’: 13)

*http://www.pkspiyungan.org/2014/08/keajaiban-oleh-salim-fillah.html

Kekayaan Tifatul Menyusut, Setelah 3 Tahun Jadi Menteri

Tiga tahun awal menduduki kursi kementerian Komunikasi dan Informatika (menkomimfo) membuat kekayaan Tifatul Sambiring malah mengalami penyusutan.

Setelah Tifatul Sembiring dilantik menjadi menkomimfo pada Oktober 2009, pada tanggal 24 November 2009, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima laporan kekayaan politisi asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu. Dimana total harta kekayaan Tifatul saat itu mencapai Rp 4.428.850.568 dan USD 12.000.

Sementara pada laporan per 31 Agustus 2012 -- tiga tahun setelah Tifatul jadi menteri -- harta kekayaannya justru turun Rp 48.967.435, jadi 'tinggal' Rp 4.379.883.153 plus USD 12.000.

Penyusutan terjadi di daftar harta bergerak (alat transportasi) dari yang sebelumnya senilai Rp 558.500.000 menjadi Rp 457.500.000.

Sementara giro dan setara kas Tifatul justru naik, dari Rp 1.084.633.988 menjadi Rp 1.107.865.953. Kenaikan juga terjadi di sisi piutang, dari Rp 1.605.798.200 menjadi Rp 1.610.798.200.

Kini, di akhir masa jabatannya, Tifatul memutuskan untuk mundur sebagai menkominfo. Karir politiknya bakal berlanjut sebagai anggota DPR.

"Memang sebelum 1 Oktober saya akan berhenti. Kementerian akan di-take over oleh Menko Polhukam," kata Tifatul di sela-sela acara Global Media Forum (GMF) di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, (26/8/2014)

Kandidat Walikota Depok

Di akhir masa jabatan sebagai Menkominfo, nama Tifatul Sembiring masuk sebagai salah satu kandidat calon Wali Kota Depok yang akan diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Namun, Tifatul melalui akun Twitter-nya @tifsembiring, Senin (25/8) mengatakan, bahwa dirinya menganggap banyak kader PKS lain yang lebih muda dan lebih baik dirinya.

"Saya pribadi, mengusulkan kader yang muda, beri kesempatan agar berpengalaman mengelola Pemkot. Banyak kader-kader yang lebih baik dari saya," kata mantan Presiden PKS ini.

Tifatul menegaskan, jabatan adalah sebuah tanggung jawab yang sangat berat kepada Allah dan manusia

"Pandangan pribadi saya, jabatan tidak memuliakan seseorang, namun tanggung jawab dan amanahnya sangat berat kepada Allah swt dan manusia," tandasnya.

Pemilukada Depok sendiri akan berlangsung pada akhir Februari 2015.

*http://www.pkspiyungan.org/2014/08/kekayaan-tifatul-menyusut-setelah-3.html

Tiba di DPP Gerindra, Hidayat Nurwahid Pimpin Salat Jenazah

Jakarta - Mantan Presiden PKS Hidayat Nurwahid datang melayat jenazah Ketum Gerindra Suhardi. Sesaat setelah tiba, Hidayat langsung memimpin salat jenazah.

Pantauan detikcom, Jumat (29/8/2014) di kantor DPP Gerindra, Ragunan, Jaksel, Hidayat tiba sekitar pukul 06.10 WIB. Setelah mengaji sebentar, dia langsung bertindak sebagai imam dalam menunaikan salat jenazah.

Usai melaksanakan salat, Hidayat langsung menyalami dan mengucapkan duka cita ke istri almarhum Suhardi, Lestari Rahayu Waluyati dan keluarga yang telah tiba di DPP Gerindra.

Pagi ini, jenazah Suhardi rencananya akan diterbangkan ke Yogyakarta untuk dikebumikan. Namun sebelum diterbangkan, akan ada upacara penghormatan untuk Suhardi.

Upacara kehormatan rencananya akan digelar pukul 08.00 WIB. Upacara akan dipimpin oleh Prabowo Subianto. 

Sumber : http://news.detik.com/read/2014/08/29/064425/2675681/10/tiba-di-dpp-gerindra-hidayat-nurwahid-pimpin-salat-jenazah

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Random Post

Postingan Terkini